Rabu, 12 Juni 2019

Yuk, Hati-hati Bercanda di Grup Reuni

Rabu, Juni 12, 2019 8 Comments
Sumber foto : Rawpixel dari Pixabay



Reuni atau ajang kumpul-kumpul sesama alumni satu sekolah sering kita lakukan jika masa liburan tiba,  seperti liburan hari raya seperti sekarang ini. Pasti sudah berderet undangan reuni  yang kadang digabung dengan acara halal bi halal. Temu kangen, jumpa kawan lama atau reuni bisa dari teman semasa TK, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi. Bahkan reuni juga bisa jadi ajang temu kangen dengan mantan rekan kerja di kantor dulu. 

Reuni ini biasanya akan berlanjut dengan dibentuknya whattsapp grup alumni. Bahkan yang tidak datang acara reuni pun tiba-tiba diajak masuk bergabung dengan alasan menyambung tali silaturahim. Sebenarnya ide ini bagus, karena dari grup alumni kita bisa berbagi informasi, sekedar saling memberi kabar dan mengakrabkan diri dengan saling bercanda, berkelakar. 

Memamng sih, bahwa menyambung silaturahim, salah satunya melalui group reuni pahalanya besar, selain juga akan akan memanjangkan usia kita. Masih ingat kan kisah Nabi Daud AS yang waktu wafatnya ditunda berkat silaturahim yang dilaksanakannya menjelang waktu wafat? Dikisahkan pada saat itu Nabi Daud AS sudah diberitahu malaikat tentang akan datangnya waktu baginya untuk kembali kepada Allah. Mengetahui hal ini, Nabi Daud AS mempersiapkan diri. Beliau mengunjungi seumua pengikutnya untuk meminta maaf dan memberitakan bahwa beliau akan menghadap Allah. Nabi Daud mengisi sisa usia beliau dengan tetap menyebarkan kebaikan lewat syiar. Tibalah hari yang sudah dijadwalkan, Nabi Daud AS bersiap menghadap Alah dengan mandi dan menyiapkan pulakain kafan yang akan dipakai. Tetapi datanglah malaiakat yang diutus Allah untuk memberikan kabar bahwa waktu kematian Nabi Daud AS ditunda, berkat silaturahim yang dilakukan beliau. 

Dari kisah ini, tak bisa disangkal lagit tentang manfaat dari reuni, jika diniatkan untuk menyambung persaudaraan dan saling menebar kebaikan.

Tetapi, faktanya kadang grup alumni jadi sumber awal bencana dalam rumah tangga atau pecahnya pertemanan. Obrolan yang semula hanya bercanda bisa berbuntut dibawanya perkara ke pengadilan. CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) tanpa melihat situasi bisa jadi awal perang dalam suatu hubungan. 

Nah, berikut ini 5 aturan umum dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain atau dengan sekelompok orang yang sering dilanggar :

1. Menyinggung SARA
Sudah menjadi aturan umum bahwa dalam menggunakan media dengan banyak pengguna yang berinteraksi didalamnya adalah tidak boleh menyinggung masalah Suku, Agama, Ras dan Antargolongan. Jika empat hal ini dijadikan bahan bercanda, bersiaplah terjadi pertengkaran dalam grup yang bisa berujung pada perpecahan pertemanan.
 
2.       Memperolok atau Mengejek
Hal ini berlaku bagi anggota maupun keluarganya. Belum tentu setiap orang menerima jika dijadikan bahan ejekan. Apalagi jika menyinggung orang-orang terdekatnya seperti orang tua,  anak dan istri atau suami.
 
3.       Perbedaan Kondisi Dahulu dan Sekarang
Merasa dekat atau merasa pernah akrab, mungkin menjadikan sesorang lupa bahwa kondisi dahulu dengan saat ini sudah jauh berbeda. Teman SD kita sekarang boleh jadi sudah punya anak bahkan cucu. Label yang menempel pada teman sewaktu SD sangat mungkin sudah berbeda dengan situasi saat ini. Kita harus bisa menempatkan diri sebagai pribadi yang ada saat ini. Maksudnya sebagai seseorang yang harus menjaga martabat keluarga, dengan berhati-hati ketika bercanda.
 
4.       Jam Mengobrol yang Disepakati
Ibarat kantor grup alumni semestinya punya jam mengobrol yang disepakati bersama. Misalnya tidak ada chat pada waktu-waktu khusus untuk ibadah, jam kantor, jam belajar atau waktu istirahat. Meskipun bisa saja kita tidak ikut cutting tetapi notifikasi masuknya pesan bisa saja mengganggu aktivitas utama saat itu.
 
5.       Bullying
Beramai-ramai membully teman dalam group tentu menimbulkan rasa tidak nyaman. Siapapun akan tidak suka jadi korban perundungan, meskipun hanya dalam obrolan di grup.  Hal ini juga bisa menimbulkan perpecahan.

Sebaik baik segala sesuatu itu adalah yang banyak manfaatnya. Jika grup alumni ini memberi kontribusi positif bagi kita, maka grup tersebut tetap layak diikuti guna menyambung silaturahim. Tetapi jika banyak mudharat atau kerugian yang kita dapat dari grup reuni, kita berhak untuk pamit undur diri. Keluar dengan baik dengan alasan yang bisa dimaklumi tentu bukan berarti memutus pertemanan.


#groupreuni
#reuni


Minggu, 09 Juni 2019

Anak Milenial Tumbuh Tanpa Gadget? Bisa atau Tidak, ya?

Minggu, Juni 09, 2019 0 Comments

Anak Milenial Tumbuh tanpa Gadget? Bisa tidak ya?


hidup di era digital tanpa bersentuhan dengan peralatan digital, rasanya sulit. Ketika hampir semua orang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menikmati kemudahan hidup, apakah kita mau bersusah payah hanya untuk makan atau bepergian? jawabannya pasti lebih banyak yang setuju kita ikuti arus perkembangan zaman dengan mengambil manfaat dari kemajuan yang ada.

Banyak hal semakin mudah dengan adanya kemajuan teknologi, tetapi ada pula yang makin sulit dikendalikan dengan perkembangan yang terjadi. Satu yang utama adalah pengasuhan anak. Hmm.. ini PR besar para orang tua mendidik anak di tengah gempuran kemajuan teknologi sekaligus kemunduran "nilai" dalam kehidupan.

Jika menjawab pertanyaan yang saya jadikan judul artikel ini, apa jawaban Anda? Kalau kata saya, bisa iya bisa tidak. Kalau dibilang bisa, ini memang masih sedikit yang saya jumpai anak tanpa gadget. Dari sedikit yang ada inipun belum banyak memberi bukti. Karena meskipun anak bersih dari gadget, orang tuanya masih menggunakan untuk keperluan anak. Artinya anak sebenarnya tetap menggunakan gadget lewat tangan orang tuanya.

Sebelum berlanjut, perlu kita sepakati pengertian gadget dalam tulisan ini. Gadget, meskipun beragam tetapi yang paling populer dan paling banyak digunakan saat ini adalah handphone berikut jaringan internet.
Lalu alasan dari jawaban tidak adalah bahwa terkadang tugas di sekolah pun membutuhkan gadget dalam pengerjaannya. Tiap anak pasti memiliki group orang tua. Paling tidak satu Whattsapp group. Ini belum ditambah dengan group komite, group kelompok ekstrakulikuler, dan lain-lain. 

Anak-anak pun banyak yang memiliki Whattsapp group dengan alasan untuk saling bertukar informasi seputar sekolah. Atau untuk keperluan mencari bahan laporan atau tulisan, anak terbiasa googling (menggunakan mesin pencari di internet) dengan alasan pengayaan bahan (meskipun materi dari buku paket pun sebenarnya sudah ada).

Sekarang, jika lebih banyak yang setuju menggunakan (dengan syarat) dibanding yang tidak, apa langkah terbaik supaya keberadaan gadget bukan menjadi pengganggu, tetapi justru memberi support tumbuh kembang anak supaya sehat jiwa dan raganya? 
1.       Pengaturan waktu penggunaan
2.       Pembatasan konten yang bisa diakses
3.       Keterlibatan orang tua (dominasi peran orang tua)
4.       Kesepakatan sebagai “kontrak penggunaan gadget” antara anak dengan orang tua


"Kita tidak bisa menolak kemajuan. Bukan hanya akan ketinggalan zaman, tetapi juga akan sendirian." 


Lalu, bagaimana supaya tidak ketinggalan, tetapi tetap aman? Tetap aman, karena dampak negatif dari penggunaan gadget juga jumlahnya sebanyak manfaat dan kemudahan yang ditawarkan olehnya. 

Alasan kesehatan adalah yang paling utama, baik kesehatan badan dari gempuran radiasi maupun sehat secara ruhani, karena gadget kadang menggeser kata “manusiawi” dari kehidupan sehari-hari.




Baiklah, kita kupas satu demi satu syarat-syarat yang harus dipenuhi jika gadget memang harus ada.

1.       Pengaturan waktu penggunaan.
Pengaturan waktu disini berkaitan dengan jadwal penggunaan dan durasi. Jika gadget ditempatkan sebagai alat hiburan, maka porsinya tidak bisa lebih banyak dari tugas dan tanggung jawab yang ada. 

Karena tugas utama anak adalah belajar, sebaiknya gadget hanya bisa digunakan pada hari libur, bukan hari belajar. Durasi maksimal dalam sehari atau sepekan bisa ditentukan dari kesepakatan anak dan orang tua, dimana peran orang tua lebih harus mengarahkan bukan mengikuti keinginan anak semata.

2.       Pembatasan konten yang bisa diakses
Meskipun ada tools yang bisa dipasang, tetapi aturan pembatasan konten yang boleh diakses oleh anak tetap harus diterapkan. 

Pembatasan ini bisa disesuaikan dengan usia anak. Biasakan anak untuk selalu meminta izin pada orang tua jika mengakses konten yang belum masuk dalam kesepakatan. Dalam pembahasan ini, saya biasanya menganalogikan dengan pakaian. Tiap anak hanya bisa memakai baju ukuranya pas dengannya.

3.       Keterlibatan orang tua (dominasi peran orang tua)
Saya lebih menekankan pada dominasi atau keterlibatan yang dominan, karena bagaimanapun anak-anak masih dibawah pengasuhan orang tua. Sehingga kendali dan kontrol masih ada pada orang tua. Keterlibatan disini tidak hanya dalam kebijakan, tetapi secara fisik orang tua perlu terlibat dalam penggunaan gadget. Tidak perlu setiap saat mendampingi, sesekali ikutlah melihat apa yang dibuka atau dimainkan anak-anak. Kehadiran orang tua pada kegiatan anak seperti ini, selain sebagai kontrol juga menambah kedekatan emosional antara orang tua dengan anak. Bermain dengan mereka pasti akan jauh lebih menyenangan  dibanding membelikan mainan saja.

4.       Kesepakatan sebagai “kontrak penggunaan gadget” antara anak dengan orang tua. Hal ini penting dan bisa digunakan sebagai pass word untuk bisa menikmati gadget. Kesepakatan tersebut bisa ditulis dalam selembar kertas yang ditandatangani anak dan orang tua. Ini menandakan bahwa kesepakatan adalah hal serius yang harus ditaati oleh kedua belah pihak. Orang tua harus tegas melaksanakan kesepakatan (jika ada pelanggaran), meskipun mungkin akan  diiringi derai air mata.

Nah, anak adalah amanah yang kelak harus kita kembalikan pada Sang Khaliq. Selayaknya sebuah titipan, kita berkewajiban mengembalikannya dalam keadaan baik, sebaik ketika titipan tersebut diberikan. 



Kamis, 02 Mei 2019

Spirit #AyoHijrah Bank Muamalat Membersamai Perjuangan Bebas dari Riba

Kamis, Mei 02, 2019 44 Comments

Tergulung Riba

Ketika Allah menghendaki sesuatu lalu mengatakan “jadi” maka terjadilah apa yang Ia inginkan. Segala yang tidak mungkin dari perhitungan matematika manusia sangat mudah bagi Allah untuk membolak balik. Logika dan nalar manusia takkan mampu melawan kehendak-Nya.

Jika mengingat kondisi keluarga saya tiga tahun yang lalu, rasanya seperti mimpi dan tidak bisa membayangkan bahwa kami telah mengalami ujian yang mengantar kami pada keadaan yang bertolak belakang dari sebelumnya.

Dulu, kemana pergi saya selalu membawa 2 kartu sakti pemberian suami. Dengan kartu itu saya bisa belanja sesuka hati, berburu baju-baju lucu dan membawa pulang banyak barang. Meskipun belum masuk kategori Miss Belanja, tak urung kartu itu membuat saya sangat leluasa. Kalau saya hanya membawa dua, suami saya membawa hampir lima kali lipatnya.

Sungguh kemudahan yang semu belaka, karena ketika tiba hari pembayaran tagihan suami harus memutar otak bagaimana melunasinya. Kartu kredit awalnya hanya digunakan untuk penyelamat dikala transfer dari klien belum masuk, lama kelamaan kartu kredit tersebut benar-benar membuat kami mati gaya ketika jatuh tempo dan suami belum bisa melunasinya.

Jalan Pembuka Menuju  Hidayah-Nya

Allah menunjukkan kuasa-Nya ketika diluar nalar perhitungan bisnis, suami jatuh bangkrut dengan hutang yang tidak sedikit. Demi menyelamatkan diri terpaksa suami menutup semua kartu kredit termasuk dua kartu tambahan untuk saya.

Hidayah Allah yang kemudian menuntun kami pada #AyoHijrah dengan meninggalkan semua kenikmatan berbalut riba. Allah membuka mata kami bahwa apa yang mudah bagi kami selama ini sebenarnya adalah pintu menuju neraka, Astaghfirullah.

Sungguh nikmat tiada tara ketika Allah memberi kami kesempatan kedua untuk bertobat, meninggalkan segala praktik riba dan memperbaiki diri.

Selain menutup semua akun di bank konvensional, kami menjual hampir semua aset yang kami miliki untuk membayar hutang. Tekad untuk menjadi lebih baik kemudian tidak hanya pada amal ibadah saja, memperbaiki sholat dan memperbanyak sedekah, tetapi juga perbaikan pengelolaan keuangan keluarga.

Sejalan dengan Gerakan #AyoHijrah
Mulailah kami mencari bank yang benar-benar dijalankan sesuai syariat Islam. Alhamdulillah tidak jauh dari tempat kami tinggal kami menemukan bank persis seperti yang kami inginkan. Bisa membersamai kami memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri menuju ajaran Islam yang lebih baik, menuju kesempurnaan dan secara menyeluruh, kaffah di semua lini kehidupan kami.

Setelah memperbaiki cara sholat, melakukannya dengan berjamaah di masjid, mentadaburi Alquran setiap hari, puasa sunnah sebagai pembersihan diri, kami pun mulai membersihkan harta kami.

Menemukan Oase ditengah Gurun Pasir 


Bank Muamalat Indonesia, sebagai bank pertama di Indonesia yang murni syariah menjadi pilihan. Pada kunjungan pertama, makin mantap lah hati kami berhijrah karena program Bank Muamalat sejalan dengan ghirrah kami #AyoHijrah.

Gerakan ini adalah ajakan pada semua lapisan masyarakat Indonesia untuk menjadikan diri manusia yang lebih baik dalam segala hal. Sudah sejak Oktober 2018 Bank Muamalat lebih aktif mengajak masyarakat untuk berani berhijrah, khususnya dalam layanan perbankan.


Hari itu juga kami membuka rekening di Bank Muamalat cabang Slamet Riyadi, Solo. Kami percaya bank ini terjaga kemurnian syariahnya karena tidak menginduk ke bank lain. Bank syariah yang berdiri sejak tahun 1992 ini mengelola dana dari nasabah dengan dasar prinsip-prinsip ekonomi syariah dengan pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah.

Sebagai lembaga keuangan di era milenial, Bank Muamalat melengkapi pelayanan dengan fasilitas dan produk yang lengkap, seperti Mobil Banking, internet Banking Muamalat, dukungan jaringan ATM, bahkan memiliki kantor cabang hingga ke luar negeri.


Kini, sedikit demi sedikit usaha keluarga kami mulai bergerak dan kekhawatiran dan ketakutan jatuh miskin karena bangkrut sedikit demi sedikit bisa ditepis.

Kami pun lebih percaya diri ketika menjadikan akun di Bank Muamalat untuk bertransaksi. Transfer ke nomor rekening bank lain maupun menerima transfer sudah menjadi kebiasaan. Tidak hanya itu saja, Bank Muamalat juga mempermudah kami untuk keperluan beberapa macam pembayaran, termasuk biaya sekolah anak-anak.

Sapaan salam dengan senyum berkembang yang menyambut ketika kami datang, memberikan kenyamanan dan ketenangan.
Garansi bahwa kami akan mendapatkan ganti nyata kami nikmati. Masya Allah.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik" [HR. Ahmad]


***
Artikel ini diikutkan dalam kompetisi blog Bank Muamalat 15 April 2019-3 Mei 2019

Sabtu, 20 April 2019

Siapkan Anak Millenial menjadi Generasi yang Kuat

Sabtu, April 20, 2019 0 Comments

Bagaimana Menyiapkan Generasi Yang Kuat


Rasanya kita semua setuju bahwa tantangan era mendatang akan lebih berat bagi generasi millenial. Seiring bergerak majunya perkembangan zaman, hal negatif dan positif selalu berkejaran. Misalnya, ketika ditemukan vaksin untuk penyakit tertentu, pada saat yang hampir bersamaan kuman penyebab penyakit tersebut sudah berevolusi dan muncul dalam bentuk baru. Ilmuan tak kalah akal segera mampu memodivikasi vaksin standar menjadi vaksin plus. Kejar mengejar ini seperti tak akan pernah berhenti.

Nah, sebelum kita bahas bagaimana menyiapkan generasi yang kuat, sebaiknya kita sepakat dulu dengan pengertian “kuat”. Dari beberapa literasi yang saya baca, kuat disini mencakup tiga hal. Kuat aqidah (spiritual/ jiwa), kuat secara fisik dan kuat dari sisi ilmu (pengetahuan)

Kuat Aqidah

Mengapa kuat aqidah berada di posisi pertama? Karena kondisi spiritual seseorang akan mampu menuntun pada pilihan yang benar sesuai dengan apa yang ia yakini. Kekokohan aqidah membuat anak akan memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah terpengaruh. Jiwa yang kokoh sebagai pancaran dari kuatnya dasar aqidah akan dengan sendirinya dikuti oleh kekuatan berikuitnya yaitu kekuatan secara fisik. 

Kuat fisik

Kuat fisik berarti sehat raganya, dalam kondisi sehat seseorang bisa menjalani aktivitas dengan baik. Dalam kondisi yang sehat pula otak akan banyak menyerap hal-hal di sekitar yang membuat ia belajar. Pada proses inilah kuatnya ilmu akan terbentuk.

Kuat Ilmu


Setiap orang perlu menggunakan strategi untuk melakukan sesuatu. Tidak asal jalan, yang memungkinkan ia menabrak sesuatu. Perlu ilmu navigasi supaya tidak salah arah. Perlu teknik pemetaan supaya bisa mengambil rute paling cepat dan aman. Perlu ilmu beladiri supaya bisa melawan jika tiba-tiba ada yang menyerang. Ini sih sebagai ilustrasi saja, bahwa kehidupan mendatang mereka akan membutuhkan kekuatan ilmu, tidak hanya supaya bisa bertahan tetapi supaya bisa jadi pemennag.

Sekarang, tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkan, membantu dan membersamai prosesnya. 


Orang Tua Bertugas Menyiapkan

Nah, sekarang kita kupas bagaimana langkah-langkah menyipakan generasi yang kuat.

1.       Kuat Aqidah

Bahwa, anak adalah amanah dari Allah. Kepada-NYA lah, ia akan kita kembalikan pada pemilik hakiki. Pemahaman tentang keyakinan berketuhanan barangkali masih sulit dijabarkan pada anak. Cara yang paling tepat adalah membericontoh nyata bagaimana seseorang seharusnya bersikap, sesuai tuntunan Allah. Kehidupan spiritual yang sehat, akan menggiring seseorang pada pola hidup yang sehat pula.  


2.       Kuat Fisik

Bagaimana membuat anak memliki fisik yang kuat? Yaitu dengan asupan yang sehat pula. Masih berkaitan dengan poin 1, asupan gizi anak yang pertama haruslah sesuatu yang halal. 

Asupan gizi seimbang sebaiknya berasal dari bahan yang baik (kualitas baik), diolah dengan cara yang baik, dan dikonsumsi dengan baik pula. Pada poin ini anak akan belajar pula tentang adab makan dan minum, pola makan dengan gizi seimbang, dan pola hidup sehat seperti berolah raga untuk menjaga kebugaran badan.

Dalam keadaan sehat, anak akan bahagia. Dalam keadaan bahagia, ia akan sangat mudah menerima (mempelajari) sesuatu.
  

3.       Kuat Ilmu

Generasi millenial harus pintar, cerdas, kreatif, dan seorang pembelajar. Kekuatan ilmu akan menjadi jalan menemukan cara (teknik, strategi, dll) menghadapi dan menjalani kehidupan di masa yang akan datang. 

Seorang pembelajar tidak akan puas atau berhenti pada pencapaian tertentu, tetapi selalu memperbarui ilmu. Seperti pada cerita saya tentang vaksin dan kuman yang berkejaran, generasi yang kuat akan selalu punya tenaga untuk menjadi pemenang.



Minggu, 07 April 2019

Ceritaku Mejadi Juara Lomba Artikel

Minggu, April 07, 2019 8 Comments

Sebelumnya, mohon maaf dulu ya, pembaca ... tulisan ini sekedar cerita pengalaman saya mengikuti lomba penulisan. Bukan hendak memamerkan apa yang saya raih, karena saya tahu banyak yang jauuuh lebih hebat dari saya dan langganan juara.

Baiklah, ini pengalaman pertama mengikuti lomba penulisan setelah hampir setengah tahun ini saya mantap menggeluti dunia literasi.


Informasi di hari terakhir 

Pagi itu saya dapat kiriman foto dari teman lewat Whattspp mesenger. Rupanya foto flyer lomba artikel yang diselenggarakan oleh Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung. Deadline-nya hari itu juga pukul 22.00. Saya langsung tertarik begitu melihat peraturan lomba yang tidak terlalu rumit. Fyi, saya kurang suka lomba yang mewajibkan follow akun tertentu dan tag beberapa akun, sementara lomba ini tanpa peraturan itu 

Flyer lomba penulisan artikel


Dengan cepat saya berusaha mempelajari ketentuan lomba. Temanya tentang ekonomi syariah, dengan sub tema peran koperasi syariah dalam memajukan UMKM. Jujur saya jarang sekali menulis artukel dengan tema ekonomi. Tetapi pantang mundur saya pun membuka mesin pencari dan mengetik UMKM. Saya dapat beberapa informasi tentang UMKM dari situs resmi Kementrian Koperasi dan UKM. Lalu karena fokusnya lebih pada koperasi syariah saya cari artikel tentang hukum berniaga dalam Islam, termasuk mengenai koperasi.


Bismillah, sayapun mulai menulis. Pada kalimat pembuka, saya mengutip salah satu ayat tentang riba, bahwa Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Ayat inilah yang menjadi dasar pemikiran artikel yang saya tulis.

Selanjutnya saya memaparkan ide tentang bagaimana koperasi syariah bisa mendukung majunya UMKM. Ada lima poin yang saya tulis, yaitu tentang menghilangkan riba, membatasi ruang gerak bank keliling, gerakan muslim berdaya tanpa bank, pemberdayaan kaum duafa dan menguatkan ekonomi masyarakat "dari kita untuk kita".

Baca artikel lengkapnya disini 

Sekian waktu berlalu, sehari menjelang pengumuman saya membuka website penyelenggara lomba. Tak ada tanda-tanda tentang pengumuman lomba artikel (Ya iya lah, belum tiba waktunya, hehe)


Pengumaman Pemenang


Pada hari-h pengumuman lomba, saya malah pas sibuk banget, sepagian handphone hampir tidak kepegang. Tetiba pada baru online ada notifikasi pesan masuk dari panitia lomba.

"Assalamu'alaikum ibu sitatur rohmah, alhamdulillah untuk lomba artikel ibu mendapatkan juara 1 ,Juara 1 mendapatkan total hadiah senilai 500rb >>> , dibagi menjadi 31. Uang Tunai Rp. 300 ribu ripiah ,2. Voucher belanja di SMM Daarut Bandung senilai 100ribu 3. Voucher Makan Di SMM Corner Daarut Tauhiid Bandung senilai 100 ribu" 

Beneran nih? Hati saya bertanya ragu. Selanjutnya saya menanyakan pada panitia yang menghubungi saya tentang cara pengambilan hadiah dan lain-lain. Saya pun diminta mengirim nomor rekening bank untuk mengiriman hadiah berupa uang tunai. Voucher makan dan voucher belanja kemudian atas kebikaksanaan panitia diganti dengan pulsa telpon, dengan pertimbangan saya tinggal di luar Bandung. Yang terakhir saya diminta menginformasikan alamat lengkap untuk pengiriman sertifikat pemenang lomba. 



Masyaallah, saya terkesan banget dengan panitia yang care dengan posisi saya yang di Solo, sedangkan lomba diselenggarakan oleh Koperasi Pondok Pesantren Da'arut Tauhid di Bandung. Informasi dan pengiriman hadiah yang cepat membuat saya mengacungi jempol pada panitia lomba. 

Akhirnya, dengan rasa syukur saya mulai tergerak untuk menekuni dunia penulisan dengan lebih baik lagi. Tidak setengah-setengah dan tidak asal menulis. Manulis dengan niat menebar kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.    


Sebuah Catatan


Catatan bagi saya dari pengalaman lomba ini adalah :
1. Membuat artikel sesuai dengan ketentuan panitia
Hal ini berkaitan dengan tema, aturan penulisan termasuk keyword yang ditentukan, sebaiknya kita ikuti sesuai ketentuan lomba. Secara tulisan, karya saya mungkin tidak lebih baik dari juara ke-dua dan ke-tiga, tetapi secara tema dan keyword artikel saya lebih sesuai dengan ketentuan yang ada. 

2. Mengikuti prosedur lomba sesuai arahan panitia
Pada lomba ini panitia meminta peserta mengirim juga foto dengan ukuran tertentu dan format file tertentu. Saya pun mengikuti semua ketentuan yang ada.

3. Tiap lomba adalah ajang berlatih dan mengasah kemampuan menulis untuk lomba-lomba berikutnya.


Layaknya sebuah pengalaman, yang pertama ini akan tetap saya kenang sebagai pintu pembuka bagi dunia literasi untuk saya. Juara Pertama akan menjadi penyemangat saya untuk mencoba kompetisi-kompetisi penulisan lainnya.

(Review Buku) Hijrah Sakinah - Part 4 (Terakhir)

Minggu, April 07, 2019 17 Comments

(Review Buku) Hijrah Sakinah - Part 4 (Terakhir)



Setelah jeda cukup lama, saya dapat kesempatan menyelesaikan review buku yang tertunda. Sudah tinggal bagian akhir (dan biasanya bagian yang penting) sayang banget kalau tidak diselesaikan. Jadi supaya tujuan penulis buku ini tercapai saya lanjutkan review buku "Hijrah Sakinah"


Supaya nyambung dengan review sebelumnya boleh dibaca dulu review bagian 1-3
1.  Klik disini untuk membaca  Review 1

2.   Klik disini untuk membaca  Review 2

3.  Klik disini untuk membaca  Review 3

Media Sosial Pemicu Anti Sosial


Baiklah, kita masuk di bab tentang sosmed yang dijabarkan dengan judul "Ketika media sosial membuat anti sosial". Judulnya pas banget deh. Dari halaman 141 sampai 160 penulis berusaha membuka mata pembaca tentang efek buruk dari media sosial jika tidak ada tujuan baik dalam penggunaannya. Jadi memang kendalinya pada niat baik kita menggunakan media sosial, untuk kebaikan (mengambil manfaat) atau kesia-siaan. 

Dalam bab ini ada beberapa listing tips berkaitan dengan positif ber-medsos. Diantaranya tentang kopdar atau kopi darat, bagaimana mencegah kecanduan medsos, supaya tidak "gila" terseret drama medsos dan bagaimana curhat di medos. Dibahas juga tentang kotak kaca yang kadang jadi perngganggu dalam rumah tangga yaitu televisi. Satu hal yang penting untuk digaris bawahi dari bab ini adalah bahwa suami dan istri adalah pakaian satu sama lain. Maka sudah seharusnya saling melindungi bukan membuka rahasia kesana kemari. Hmm... nonjok betul.


Bab selanjutnya adalah tentang Kesetiaan. Bab yang menurut penulis bagus dibaca bagi para suami, atau tepatnya dibaca bersama sama dengan pasangan. Alasannya adalah bahwa tugas suami bukan hanya untuk setia di samping istri, tetapi juga menjaga agar istri setia padanya. Banyak hal penting yang perlu tidak sekedar dibaca, tetapi direnungi dan tentu saja dilaksanakan. Yaitu tentang kecemburuan dalam rumah tangga, tentang mantan dan CLBK, lalu “Predator itu bernama Pelakor” dan tentang kebiasaan mengunggah swafoto di medsos yang bisa jadi pengikis kesetiaan. Pembahasan menarik ini ada di halaman 161-180.

Penghancur Utama

Penghancur rumah tangga  yang utama adalah setan. Eratkan hubungan suami-istri seperti rapatnya shaf shalat supaya tidak ada celah bagi setan untuk menggoda. Prestasi terbesar bagi setan adalah ketika ia bisa memisahkan suami dengan istri dalam akad cerai. Pada keadaan ini setan akan dapat apresiasi lebih dari teman-temannya. Naudhubillahi min dzalik.

Godaan lain yang juga bisa menghancurkan ikatan perkawinan adalah orang-orang dengan mulut lincah. Untuk orang dengan tipe ini, tidak perlu didengar kata-katanya,  karena sejatinya apa yang ia ucapkan adalah berasal dari bisikan setan.

Hati-hati juga dengan perempuan perusak rumah tangga. Menurut penulis, ada alasan mengapa perempuan yang memiliki fisik dan otak bagus bisa menjadi pengganggu para pria mapan (biasanya sudah berkeluarga), Yang pertama bahwa dia tidak mau mencari nafkah, tidak ingin merepotkan diri dengan pernikahan, lalu adanya trauma masa lalu dan yang terakhir adanya kelainan psikologis. 

Keempat alasan ini bukanlah alasan yang bisa dibenarkan untuk merusak ikatan yang diikrarkan dengan nama Allah. Bagaimana supaya bisa terhindar dari godaan setan model ini? Jawabannya adalah mendekatkan diri pada Allah, supaya terlindungi dan terhindar dari godaan setan.

Kadang godaan juga berasal dari keluarga besar  baca tentang hal ini di halaman 191-198. Hati-hati juga dengan sahabat (sedekat apapun), dengan teman dekat ini tetap harus ada batas yang jelas mana yang boleh dibagi dengan sahabat dan mana ranah privasi kita.

Jika diminta memlilih bagian mana dari buku ini yang paling penting, menurut saya ada pada halaman 206. Menurut saya, disinilah inti dari usaha supaya “hijrah sakinah” terlaksana, yaitu dengan mengutamakan keluarga.




Mencari Tempat Curhat

Nah, bagaimana jika kita memang merasa tidak kuat dengan problem rumah tangga yang mendera? Jika memang searasa sudah memenuhi otak dan hampir meledak, kita bisa mengurainya dengan bantuan berbegi, curhat atau konsultasi pada pihak ketiga. Pihak ketiga ini bukan sembarang orang, ya. Pilihlah orang dengan kriteria sebagai berikut :
1.    Memiliki ilmu agama yang mumpuni
Pernikahan adalah ikatan yang diatur dalam agama, maka dasar-dasar fiqih perlu menjadi pertimbangan dalam memilih jalan keluar. Maka pilihlah penengah dengan ilmu agama yang baik.
2.    Amanah
Pihak ketiga ini tentu diharapkan bisa menjaga rahasia atau aib keluarga kita. Maka pihak ketiga haruslah orang yang menepati janji dan bisa memegang amanah yang kita berikan dengan baik.
3.    Memiliki kemampuan atau pemahaman yang baik tentang pernikahan
Melakukan konsultasi sebaiknya memang pada ahlinya. Ahli secara keilmuan atau bisa juga secara pengalaman.
4.    Tidak memihak
Penengah, memang seharusnya ada diantara dua pihak yang berseteru. Tidak memihak salah satu pihak, supaya tujuan berdamai bisa tercapai.

Selanjutnya pada bagian akhir, penulis menekankan pentingnya komunikasi untuk menyelesaikan masalah. Sebelum semua terlanjur kacau balau, cobalah untuk memraktikkan tips yang ada pada halaman 219-222.

“Pernikahan yang kuat bukan berisi suami-istri yang sempurna seperti dalam drama. Pernikahan yang kuat terdiri dari dua manusia yang penuh kekurangan dan keterbatasan, namun mereka tidak pernah berhenti berusaha, mereka menolak untuk menyerah”.



Nah, selesailah saya mereview buku Hijrah Sakinah Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum, yang ditulis oleh Hanny Dewanty. Buku setebal 240 halaman ini diterbitkan oleh Ikon yang merupakan bagian dari Imprint Penerbit Serambi. Cetakan I beredar bulen September 2018 dengan ISBN : 978-602-61440-8-9.
Buku dengan cover biru muda dan halaman dalam berwarna merah muda milik saya sudah sedikit kucel karena sering saya bawa kemana-mana dalam tas saya. Maklum saya bukan tipe pembaca cepat, selain memang mau dibuat revienya. Saya bawa terus supaya ketika ada kesempatan dalam perjalanan saya bisa melanjutkan membaca dan membuat catatan yang saya tuangkan dalam artikel review ini.
Semoga bermanfaat.

Surakarta, 8 April 2019

Sitatur Rohmah

Minggu, 03 Maret 2019

Minggu, Maret 03, 2019 17 Comments

(Review ) Buku 

"Hijrah Sakinah"
Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum (Hanny Dewanty)


Oleh : Sitatur Rohmah


Sebenarnya buku ini sudah sampai di tangan sejak kita-kira bulan Desember 2018, sayangnya sampai saat ini buku tersebut belum selesai saya baca. Nah, saya akan meriview buku setebal 240 halaman ini secara berseri, berkelanjutan.

Judulnya Hijrah Sakinah, Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum, ditulis oleh Hanny Dewanty. Dibagi dalam 10 bab yang masing-masing bab berisi antar 5 – 7 poin/ sub judul.

Hari ini akan saya kupas dua bab awal dari buku dengan kaver biru dan halaman dalam berwarna pink, manis sungguh


.


Bab pertama “Setelah Gebyar Pesta” membahas tentang problematika yang timbul pada awal perkawinan. “Biasanya, masalah yang terjadi saat ini, merupakan akumulasi dari keseluruhan rentetan peristiwa sejak awal perkawinan” Kaimat pembuka pada halaman pertama ini seperti menjadi magnet yang menarik saya untuk membaca lebih jauh buku ini.

Problematika pada awal pernikahan seperti sebuah fase kaget bagi para bujang dan gadis yang sebelumnya bebas pulang malam dan nongrong bersama teman-teman  selepas jam kerja, tidak lagi bisa dilakukan dengan leluasa. 

Sesorang yang selama ini kita lihat rapi, tetiba kita ketahui sering meletakkan barang-barang dimana-mana, jauh dari kata rapi, dan sekarang dia berpredikat suami, hmm. Penulis menuliskan solusi mengatasi problematika awal pernikahan dalam 5 poin tips  bagaimana mencari jalan keluar dari permasalahan (Halaman 10-13).

Bab selanjutnya membahas tentang masalah krusial  yaitu masalah finansial. Menurut penulis, masalah finansial adalah salah satu hal yang kadang masih tabu untuk diperbincangkan oleh suami istri (terutama pada awal pernikahan). Seharusnya, supaya semua jelas dan clear masalah finansial justru dibicarakan sejak awal menikah. 

Sebagai penguat beberapa pembahasan tentang maslah keuangan dalam keluarga, penulis mengutip salah satu ayat Al-Qur’an


“Sesungguhnya  orang-orang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhan-nya” ( QS. Al-Isra: 27)


Seluk-beluk masalah finansial dalam rumah tangga ditulis cukup luas dan mendalam, dilengkapi tips, dan petikan ayat atau hadits sebagai landasan pikiran. Halaman 29 – 50 membuat saya menyadari pentingnya komunikasi, catatan keuangan, dan hal sederhana yang kadang malah terlupa.

Satu hal yang menarik dan menurut saya penting adalah pesan penulis untuk waspada terhadap harta haram dalam keluarga yang bisa saja menjadi penyebab hancurnya rumah tangga. Contoh paling mudah adalah keterikatan rumah tangga dengan riba. Karena riba hukumnya haram, maka seberat apapun atau sekuat apapun riba itu mengikat keluarga kita, praktek riba harus dihilangkan.

Baiklah, itu dua bab awal yang selesai saya baca, selanjutnya besok akan saya ajak untuk lebih jauh mengetahui bagaimana Hanny Dewanti memaparkan  masalah anak dan pekerjaan rumah yang bisa menjadi pemicu pecahnya pernikahan. Sampai besok, ya!


#OneWeekOneBook

#HijrahSakinah

#Day1


Kamis, 21 Februari 2019

Metamorfosa Seorang Sita Bersama JA

Kamis, Februari 21, 2019 19 Comments


Ketika diminta mereview Training @Joeragan Artikel, saya sempat bingung. Bukan bingung bagaimana menuliskannya, tetapi bingung mau pilih yang mana, karena sudah sekitar 11 training saya ikuti. Jumlah pastinya harus diingat-ingat lagi.



Lalu saya pun memilih mereview kelas Prosa Liris. Alasanya adalah ini training pertama pertama saya di Joeragan Artikel. Alasan lain adalah bahwa kelas dengan tema ini jarang dibuka tiap bulan. 





Sekitar pertengahan Agustus 2018, ada flyer tentang training penulisan di beranda Facebook. Training online Prosa Liris. Saya pun menghubungi teman yang memosting flyer tersebut. Saya diberi formulir yang berisi kolom nama, nama akun Face Book, jumlah yang harus saya transfer berikut nomor rekening, lalu waktu transfer. 



Saya sempat menanyakan tentang bagaimana training ini dilakukan, training lain yang tersedia, dan tindak lanjut ketika training selesai. Mak Comblang atau MC JA sangat membantu dengan menjelaskan informasi yang saya butuhkan. 


Setelah saya transfer sebesar 99 ribu ke rekening yang dimaksud, saya mengirim bukti transfer ke MC yang membantu saya. Setelah itu saya diberi link group FB tempat kelas Prosa Liris berlangsung. Saya sempat berdebar menjelang kelas dimulai. Karena ini training online pertama saya.



Saya masuk kelas (group FB 13 Agustus 2018) sambil menunggu kelas dimulai sesama peserta saling berkenalan dan terjadilah obrolan ringan. Ada yang ternyata kota tempat tinggalnya berdekatan, bahkan ada yang sudah saling kenal sebelumnya. Saya sendiri sempat menyapa teman yag dari Gorontalo dan menanyakan tentang stasiun radio yag saya kenal sewaktu saya masih jadi penyiar radio. Ternyata radio yag saya tanyakan masih eksis, hebat. Obrolan sesekali masih berlangsung sampai jadwal training tiba.



Tanggal 20 Agustus 2018, kelas pun dimulai. Pagi hari, mentor Nina Kirana sudah menyapa kami dan mengingatkan supaya tidak tegang ( tahu aja kalau ada yang deg degan). Meskipun kelas baru akan dimulai pukul 19.00, tetapi materi hari pertama training Prosa Liris sudah disampaikan pada siang hari. Materi berupa gambar dengan beberapa tulisan besar. Keterangan rinci ditulis dalam kolom komentar. Siang sampai sebelum kelas dimulai kami diminta mempelajarinya. 



Ketika kelas dimulai pada pukul 19.00, peserta diminta membaca lagi materi yang sudah disampaikan dan disilakan mengajukan pertanyaan di kolom komentar. Selain mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab mentor Nina Kirana, peserta juga diminta membuat prosa liris sebagai latihan. Setiap tugas langsung dikurasi lalu diperbaiki peserta dan dicek lagi oleh mentor. Begitulah sampai selesai tiga kali tugas latihan diberikan. 



Inilah salah satu tugas prosa liris saya 

Cinta Dan Mur Baut

Oleh : Sitatur Rohmah


Ini mungkin konyol untukmu,  tapi romantis berat untukku. Kau takkan lagi butuh kata "I Love You" ketika sigap tangannya tanpa kata-kata dan tanpa kau minta, mengganti mur baut yang hilang entah dimana, menimbulkan bunyi berisik di jalan raya, dan tentu itu bisa bikin perkara ( jika lepas keduanya), karena motor mu bisa disandera. 

Jangan tertawa, kau tak tahu rasanya, tapi aku menemukan cinta disana. Bisa lebih dalam kau maknai dari hanya sekedar sepasang mur baut tak berarti. Bahwa dia meridhoi kemana kau pergi, memastikan kau aman sejak berangkat menjemput rizki sampai kembali ke rumah lagi.


Jadi, balaslah cintanya dengan kepatuhan seperti titah-NYA. Jadikan dia tenteram dengan kepercayaan yang erat kau genggam. Jangan sedikitpun melawan, ketaatan pada suamimu bisa jadi alasan untuk Tuhan tempatkanmu pada firdaus dan keabadian.


Solo, 27 Agustus 2018
#tugasprosaliris3#tugas3


Setelah itu tiap peserta diminta menyiapkan naskah prosa liris untuk dikumpulkan dalam buku antologi. 
Untuk keperluan editing, naskah bukan lagi langsung dikirim di kolom komentar, tetapi ditulis dalam ms.word lalu dikirim ke email PJ training Nurdianah Dixit. Naskah yang dikirim tentu saja setelah mendapat acc dari mentor. Peserta diminta mengirim paling tidak dua naskah prosa liris. Naskah yang dikirim tentu saja adalah naskah yang sudah disetujui oleh mentor. Peserta bisa saja perlu merevisi naskah sampai dua atau tiga kali, sampai betul-betul pas seperti arahan mentor.


Menurut saya training ini seperti semi privat meskipun sebenarnya ini training klasikal. Tiap peserta mendapat kurasi untuk masing-masing karya. Jika dijumlah ada 5 naskah untuk tiap peserta. Kebayang, kan bagaimana repotnya mentor. Tapi begitulah saya merasakan nilai plus nya training ini ada pada pendampingan yang sangat akrab dan melekat. Nilai plus lain, karena setor naskah dan kurasi dilakukan di group FB, maka peserta yang lain bisa ikut belajar dari naskah peserta lain.

Benar bahwa tidak ada yang sempurna. Secara keseluruhan training berjalan lancar meski kadang terkendala jaringan. Yang terasa kurang atau jadi hambatan dari kelas ini adalah lamanya proses pembuatan buku antologi prosa liris ini. Pada tahap pengiriman naskah, masih ada beberapa kesalahan yang dilakukan peserta seperti mengirim naskah pada badan email bukan pada lampiran. Email yang ternyata kosong tanpa attachment meskipun peserta merasa sudah mengirim naskah. Belum lagi masih saja ada yang terlambat mengirim bahkan setelah deadline diperpanjang. Itupun masih harus direvisi karena belum ada profil penulisannya, hal ini membuat makin lama prosesnya. Setelah naskah terkumpul pun hambatan di penerbit masih saja ada. Jadi sudah hampir 6 bulan berlalu belum juga terbit buku. 

Apakah saya kecewa lalu berhenti belajar di Joeragan Artikel? Jawabannya sama sekali tidak. Sejak ikut training Prosa Liris ini, dunia menjadi sangat berbeda dalam pandangan saya, dan saya seperti mengalami metamorfosa


Ya, saya dulu mungkin sebuah kepompong yang terlalu menikmati hangatnya zona nyaman.  Ibu rumah tangga empat anak dengan aktivitas seputar anak dan sekolah, kurang tantangan, kurang berkembang secara pengetahuan dan pergaulan.


Selesai training Prosa Liris, saya mendaftar tiga kelas sekaligus pada bulan Oktober 2018, Gampang Bikin Artikel, Gampang Jebol Media dan Produktif Menulis Artikel. Tiga kelas ini yang saya rasa sebagai starting point dari proses perubahan atau metamorfosis saya. Dengan modal kemampuan menulis (meskipun masih pada tahap awal) dan bukti terbit artikel di Takaitu.id, joeragan-artikel.com dan emakpintar.org, saya mulai mantap merubah profesi yang tertulis pada bio Facebook saya dari olshopper menjadi writer. 

Saya merasa semakin melihat luasnya dunia dengan bertemu teman-teman didunia maya yang memiliki minat sama seperti saya. Dengan sekejap, friendlist media sosial saya didominasi para pecinta aksara, wow! Dari pertemanan sesama penulis ini, saya bergabung dengan beberapa komunitas menulis seperti Makmood, Invinity Lovink-The Fighter, Pejuang Literasi, dan beberapa kelas berbagi ilmu lainnya.  Dari grup komunitas ini, saya mendapat banyak ilmu penulisan yang sebelumnya tidak saya peroleh dari training. jadi seperti mengikuti kelas advance atau kelas lanjutan.

Demi menguatkan kepak sayap pena saya, beberapa training lanjutan tentang penulisan saya ikuti, seperti kelas opini, kelas ghostwriter, kelas blog, web designer, dan yang terakhir kelas review.

Pada setiap training saya selalu berusaha aktif terlibat dalam diskusi kelas. Menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan dan mengerjakan tugas yang diberikan mentor. Jika ada challenge atau tantangan saya selalu berusaha mengerjakan sebaik yang saya bisa. Hasilnya, beberapa kali saya memenangkan challenge dan mendapat hadiah voucher training yang saya gunakan untuk mendaftar training berikutnya, bahkan pernah juga saya mendapat hadiah voucher DP umrah sebesar 1 juta. 

Satu lagi, saya mendapat kesempatan mengikuti kelas web bersama founder Takaitu.id @Endo Putra dengan beasiswa penuh dari Joeragan Artikel. Studi kasus yang saya kerjakan adalah web kegiatan offline Joeragan Artikel yaitu yuknulisyuk.com . Web ini masih dalam proses penyempurnaan sejalan dengan belum selesainya kelas web yang berlangsung selama satu bulan.

Dari sekian training yang saya ikuti, saya bisa merasakan banyaknya nilai lebih dari Training @Joeragan Artikel dibandingkan lembaga training lainnya, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Tim Eksekutif JA sangat membantu
2. Materi training aplikatif
3. Investasi training jauh lebih murah dibanding benefit yang diperoleh
4. Mentor yang kompeten di bidangnya dan mau membimbing perserta dengan sabar
5. PJ Training mengelola kelas dengan baik, tertib dan terprogram
6. Group alumni training yang menjadi tempat memperluas jaringan dan wawasan
7. Materi training beragam, bisa disesuaikan dengan minat peserta (fiksi atau non fiksi)

Jadi begitulah, saya seperti menjadi kupu-kupu cantik yang siap tebang membantu menebar benih-benih kebaikan lewat tulisan, membuat dunia indah dalam beragamnya bunga di taman.

Terimakasih banyak untuk Ummi Aleeya selaku founder dan CEO Joeragan Artikel, semoga keberkahan melingkupi JA dan semua yang terlibat atau pernah terlibat di dalamnya, barokalloh.







Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah ibu rumah tangga penuh waktu dengan 4 orang putra putri. Menulis menjadi kegiatan positif mengisi waktu jeda dari mengurus keluarga. Content writer, freelancer dan menulis buku adalah pekerjaan sampingan, yang utama tetaplah ibu rumah tangga

Follow Us @soratemplates